Industri Makanan Tertekan, Akibat Dolar Tinggi

0
201

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S Lukman mengakui, pelemahan rupiah saat ini yang sudah menembus di atas Rp14.400-an dirasakan berat bagi industri.

“Hitungan saya (rupiah) sudah terdepresiasi 8-10% dibandingkan tahun lalu. Budget kita acuannya Rp13.600 sesuai dengan APBN. Ini tentunya bagi industri yang bahan baku impornya cukup banyak, ini cukup berat,” kata Adhi

Industri makanan dan minuman turut merasakan pengaruh pelemahan rupiah yang masih saja terjadi. Gejolak kurs rupiah menjadi momok tersendiri bagi industri makanan minuman karena bahan bakunya didominasi impor.

pelaku usaha makanan minuman juga merasakan dampak lain akibat kenaikan biaya energi yang berpengaruh pada angkutan logistik yang ikut naik. Untuk itu, kata Adhi, industri makanan dan minuman harus melakukan penyesuaian harga.

Industri Makanan Tertekan, Akibat Dolar Tinggi

“Perkiraan saya akan ada beban biaya tambahan sekitar 3-6%, tergantung dari industrinya. Beban tambahan 3-6% ini kalau margin tidak mendukung, otomatis keputusan terakhir harus menaikkan harga,” ungkap Adhi.

Dia melanjutkan, pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga produk karena butuh waktu sekitar dua bulan sebagai toleransi. Hal ini pun setelah mempertimbangkan jika penjualan akan turun di tengah situasi seperti ini.

Menurut dia, ada beberapa strategi untuk menyiasati kenaikan kurs dan biaya energi. Di antaranya, mengubah ukuran produk dan mengubah bahan bungkus produk. Namun, itu pun tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

“Butuh waktu, harus izin BPOM, packaging, tapi beberapa sudah melakukannya. Itu upaya efisiensi yang dilakukan industri karena kalau menaikkan harga juga berat,” tuturnya.

Meski begitu, Adhi yakin pertumbuhan industri makanan dan minuman dapat tumbuh lebih dari 10% pada 2018 karena permintaan yang cukup tinggi. Namun dari sisi margin industri semakin lama semakin berat.

“Omzet kami di periode pertama tahun ini hanya 30%. Sementara pengeluaran kami mencapai 200%. Ini karena banyaknya libur di Juni, kami harus bayar THR untuk karyawan, sementara produktivitas tak mengimbangi,” singkatnya.

Menurut Adhi, beberapa industri intermediate seperti industri tepung  terigu dan gula sudah menaikkan harga.  “Impor gandum sudah naik. Tapi untuk industri yang produk jadi memang marginnya masih lebih longgar. Mereka bilang kalau sudah tidak kuat, harus menaikkan harga,” tandasnya.

Upaya Stabilisasi Rupiah Tetap Berjalan
Bank Indonesia (BI) memastikan, akan terus melakukan langkah stabilisasi rupiah, tidak hanya melalui kebijakan suku bunga yang terukur. BI juga akan melakukan intervensi untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valuta asing (valas) maupun rupiah.

“Pelemahan rupiah yang sekarang ini masih terkendali, secara tahun juga terkendali sehingga tidak perlu kepanikan,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo