Soal Defisit Neraca Perdagangan RI, Sandiaga: Langkah Sri Mulyani Perlu Didukung Kepemimpinan Yang Kuat Dan Tegas Seperti Prabowo

0
70

Terkait defisitnya neraca perdagangan Indonesia, calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno yakin Menteri Keuangan Sri Mulyani mengetahui langkah-langkah yang harus diambil. Neraca perdagangan pada November 2018 mengalami defisit US$ 2,05 miliar. Setelah bulan lalu defisit US$ 1,77 miliar. Adapun defisit neraca perdagangan tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang Januari sampai November 2018.

Sebelumnya defisit terbesar neraca dagang RI pada 2018 terjadi pada Juli dengan defisit US$ 2 miliar dollar. “Meski demikian, langkah Sri Mulyani perlu didukung oleh kepemimpinan yang kuat dan tegas,”ujar Sandiaga.

“Bu Sri Mulyani sudah tahu, dia sudah tahu. Tapi Bu Sri Mulyani perlu pemerintahan yang kuat, perlu pemerintahan dan kepemimpinan yang tegas seperti Pak Prabowo untuk menjalankannya,” kata Sandiaga saat ditemui di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Senin (17/12/2018).

Menurut Sandiaga, jika Indonesia dipimpin oleh sosok pemimpin yang tegas seperti Prabowo, sektor ekonomi Indonesia akan menguat. Ia menilai perlu ada reformasi struktural dalam memperbaiki kondisi perekonomian saat ini.

Soal Defisit Neraca Perdagangan RI, Sandiaga: Langkah Sri Mulyani Perlu Didukung Kepemimpinan Yang Kuat Dan Tegas Seperti Prabowo
Soal Defisit Neraca Perdagangan RI, Sandiaga: Langkah Sri Mulyani Perlu Didukung Kepemimpinan Yang Kuat Dan Tegas Seperti Prabowo

Sandiaga mengatakan, selain itu kepemimpinan yang tegas akan menghindarkan kebijakan ekonomi berubah-ubah dan tergantung pada kepentingan politik tertentu.

“Kalau Pak Prabowo itu jadi bosnya Sri Mulyani, reformasi struktural itu akan jalan, karena butuh kepemimpinan yang kuat dengan pola kepemimpinan yang tegas,” tutur Sandiaga.

“Enggak gampang diubah-ubah karena tentunya kepentingan-kepentingan yang non-struktural dan kepentingan politik terutama. Ini yang harus menjadi landasan kita,” ujarnya.

Defisit terbesar sepanjang 2018

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, sebelumnya pada November 2018 defisit neraca perdagangan yang tembus US$ 2,05 miliar disebabkan faktor eksternal. Defisit neraca perdagangan tersebut merupakan defisit terbesar sepanjang 2018.

Soal Defisit Neraca Perdagangan RI, Sandiaga: Langkah Sri Mulyani Perlu Didukung Kepemimpinan Yang Kuat Dan Tegas Seperti Prabowo
Soal Defisit Neraca Perdagangan RI, Sandiaga: Langkah Sri Mulyani Perlu Didukung Kepemimpinan Yang Kuat Dan Tegas Seperti Prabowo

Sebelumnya, defisit terbesar terjadi pada Juli 2018, yaitu mencapai US$ 2 miliar. “Faktor ekonomi luar dari sisi ekspor akan menjadi tantangan, beberapa komoditas kita atau pasar untuk mengekspor harus kita lihat dengan sangat hati-hati,” katanya di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Adapun, China selama ini merupakan mitra dagang terbesar Indonesia. Komoditas ekspor Indonesia mayoritas dikirim ke China. Oleh sebab itu, pelemahan ekonomi China dinilai akan memengaruhi permintaan ekspor produk Indonesia.

Sementara itu, Sri Mulyani mengatakan, pasar-pasar baru untuk ekspor produk Indonesia menyerap ekspor sangat terbatas. Hal ini akibat adanya pelemahan permintaan karena kondisi ekonomi global yang tidak pasti.