Gagal, Janji Petahana Tuntaskan Kasus HAM Masa Lalu

0
160
Gagal, Janji Petahana Tuntaskan Kasus HAM Masa Lalu

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dinilai gagal menuntaskan pelanggaran berat HAM masa lalu. Demikian pernyataan politisi Partai Demokrat, Benny Kabur Harman.

Seharusnya Presiden Jokowi, menurut Benny, mampu menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu. Alih-alih menuntaskan kasus lama, justru muncul kasus-kasus pelanggaran HAM baru pada saat ini.

“Sebenarnya kasus HAM masa lalu bisa diselesaikan. Tapi presiden Jokowi gagal melakukannya,” kata Benny seperti dikutip dari keterangan tertulis tim media pasangan Prabowo-Sandiaga, Selasa (8/1/2019).

Dikatakan Benny, supaya Indonesia tidak terjebak pada pergulatan kasus-kasus di masa lalu, sehingga sangat penting bagi bangsa Indonesia untuk menyelesaikan kasus HAM masa lalu.

Politisi Partai Demokrat, Benny Kabur Harman.
Politisi Partai Demokrat, Benny Kabur Harman.

Karenanya, Demokrat sebagai salah satu partai pengusung pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga, mengusulkan pembentukan dewan nasional penuntasan kasus HAM masa lalu.

“Harapan kita pemerintahan di bawah presiden Prabowo dan Sandiaga punya konsep dan skema yang lebih jelas untuk menyelesaikan pelanggaran HAM di masa lalu,” ujar politisi Partai Demokrat.

Diketahui, Jokowi pernah berkomitmen pada masa kampanye Pilpres 2014, untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran berat HAM masa lalu dan menghapus impunitas. Komitmen tersebut juga tercantum dalam visi, misi, dan program aksi yang dikenal dengan sebutan Nawa Cita.

Adapun salah satu poin dalam sembilan agenda prioritas Nawa Cita yaitu Jokowi berjanji akan memprioritaskan penyelesaian secara berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa lalu.

Jokowi juga berkomitmen untuk menyelesaikan delapan kasus pelanggaran HAM masa lalu yang menjadi beban sosial politik. Kedelapan kasus tersebut adalah kasus kerusuhan Mei 1998, Kasus Trisaksi, Semanggi I, Semanggi II, kasus penghilangan paksa, kasus Talangsari, Tanjung Priuk, dan Tragedi 1965.