BPN Prabowo: Capres Nomor Urut 01 Bohong Lagi Soal Tidak Gunakan Biaya Politik

0
107
BPN Prabowo: Capres Nomor Urut 01 Bohong Lagi Soal Tidak Gunakan Biaya Politik

Pernyataan capres nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi yang menyebut tidak menggunakan biaya politik untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu, dibantah Nicholay Aprilindo, Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Nicholay mengatakan ucapan Jokowi yang keluar pada saat debat perdana capres-cawapres, Kamis (17/1/2019) malam tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Nicholay yang merupakan teman dari Jokowi menceritakan kisah awal pada 2008. Jokowi memintanya untuk dipertemukan dengan Hashim. Lantaran melihat sosok Jokowi yang sederhana, Nicholay mengundang Hashim datang ke Loji Gandrung, kantor wali kota Solo untuk menemui Jokowi.

Ternyata, dalam perjalanan Jokowi dari Wali Kota Solo hingga berhasil menjadi nomor orang satu di DKI Jakarta ada sosok adik dari Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo.

“Dalam pembicaraan Jokowi memaparkan keberhasilan di Solo, memindahkan pasar tanpa Satpol PP dengan manusiawi, memakai tumpengan dan sebagainya,” ujar Nicholay di Prabowo-Sandiaga Media Center, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Jumat (18/1/2019).

Nicholay Aprilindo, Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.
Nicholay Aprilindo, Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Dikatakan Nicholay, Hashim yang berjiwa sosial tinggi langsung tertarik dengan hasil-hasil kinerja Jokowi yang kala itu menjadi Wali Kota Solo. Jokowi, pada kesempatan itu juga sempat mengutarakan keinginannya menjadi Gubernur.

Kemudian, Hashim saat itu melihat potensi Jokowi yang bisa menjadi Gubernur Jawa Tengah, tetapi Jokowi malah ingin menjadi Gubernur DKI Jakarta. Nicholay sebagi teman Jokowi sempat meyakinkan Hashim jika sosok Jokowi dapat dibawa ke Jakarta.

“Waktu itu untuk mengalahkan Foke (Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012). Nah akhirnya pak Hashim sangat setuju sehingga pak Hashim mempersiapkan segala sesuatu untuk jokowi masuk Jakarta,” jelas Nicholay.

Namun, perjalanan Jokowi masuk ke Pilkada DKI Jakarta tidaklah mulus. Dikarenakan, Gerindra saat itu harus mengajak partai lain supaya bisa berpartisipasi dalam Pilkada. Saat itu, Gerindra sempat menawarkannya kepada PDIP, tetapi ditolak oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri karena lebih memilih mengusung Foke.

Lantaran ingin meloloskan Jokowi, Hashim sampai harus meminta bantuan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo untuk melobi Megawati. Lantas lobi itu pun membuahkan hasil. Kerja Gerindra dimulai dari titik ini dengan segala pembiayaan yang dipenuhi oleh Hashim.

“Akhirnya semua pembiayaan dilakukan oleh pak Hashim. Nah, satu lagi yang perlu kalian catat adalah ketika pak Hashim mengajukan Jokowi, pak Prabowo mengajukan Ahok. Dipasangkan dengan Jokowi,” ungkapnya.

Namun, saat itu Hashim sempat menolak Jokowi dipasangkan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dibawa oleh Prabowo karena Ahok pernah menghinanya. Di sini Prabowo bekerja keras untuk meyakini Hashim jika Ahok pantas mendampingi Jokowi di Pilkada DKI 2012.

“Baik Ahok maupun pak Jokowi tidak didukung oleh pengusaha manapun, murni dari pak Hashim dari kantong pak Hashim sendiri,” kata Nicholay.

Hashim Djojohadikusumo, adik capres Prabowo Subianto
Hashim Djojohadikusumo, adik capres Prabowo Subianto

Oleh sebab itu, Nicholay menegaskan bahwa Jokowi berbohong dengan menyebut tidak ada biaya politik di balik perjalannya menjadi kepala daerah. Bahkan Nicholay berani mengungkapkan kalau biaya politik yang dihabiskan Hashim demi kemenangan Jokowi mencapai ratusan miliar.

Hal tersebut membuat Nicholay kecewa lantaran melihat Jokowi tidak menunjukan rasa terima kasihnya kepada Hashim karena sudah diberikan jalan hingga bantuan untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Selain itu, kata Nicholay, Hashim juga sangat kecewa dengan Jokowi karena sudah berbohong saat ditanya soal isu maju sebagai presiden saat masih menjabat sebagai Gubernur.

“Angkanya duit kalkulasi pokoknya diatas Rp 100 miliar. Jokowi yang minta karena nggak ada biaya dia. Kalau dia katakan tanpa biaya, bohong itu. Untuk biaya kampanye hingga jadi gubernur. Nggak ada timbal baliknya dan pak Hashim gak minta. Ketika Jokowi jadi gubernur tidak ada timbal balik apapun,” jelasnya.

“Pak Hashim kecewa dong. Gimana sih dikhianati ketika sudah jadi gubernur dan presiden, tidak ada ucapan maaf, apresiasi pun tidak. Tidak ada minta izin atau minta maaf,” pungkas Nicholay.

Seperti kacang lupa kulitnya, itulah peribahasa yang pantas diberikan kepada Jokowi. Sebelumnya, saat debat perdana lalu, Jokowi sepertinya tanpa beban mengucapkan hal tersebut padahal dia katakan itu dihadapan Prabowo yang sudah mengantarkannya menjadi Gubernur DKI Jakarta saat itu.